Senin, 14 April 2025

Cerpen: Aku yang Salah

           “Halo, semua. Perkenalkan, nama aku Mei Hariyanti. Panggil saja Mei. Aku memperkenalkan diri di depan kelas. Ini hari pertamaku bersekolah di SMA Budi Bangsa. Aku baru pindah dari ibu kota. Di sini, ayahku ada urusan pekerjaan. Jadi, kami sekeluarga juga ikut pindah ke sini.

Para siswa kelas XI IPS 2 menyambut riuh. Mereka memberikan respons positif terhadap kehadiranku.

“Silakan duduk di kursi sebelah sana, ya.” Pak Muhidin, guru yang membawaku tadi, mengarahkan. Dia menunjuk sebuah kursi kosong paling pojok. Hanya kursi itu yang tidak ditempati.

Aku berucap syukur karena masih mendapat tempat. Aku pun ke sana. Terdengar bisik-bisik para siswi saat aku melintasi mereka.

“Semoga nggak terjadi apa-apa lagi.”

Begitu suara yang kutangkap. Namun, aku tidak paham apa maksud mereka. Aku duduk di kursi yang dimaksud. Kemudian, aku menyapa teman sebangku. “Hai.” Aku melempar senyum dan mengulurkan tangan.

Siswi yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Rani itu menyambut. Kami bersalaman, lalu mengobrol ringan. Aku sempat bertanya mengenai alamat rumahnya. Kata Rani, dia tinggal di Perumahan Griya Fajar Indah No. 24. Aku sangat senang. Ternyata rumah baru keluarga kami berdekatan dengan rumah Rani, masih satu kompleks. Tidak begitu panjang obrolan kami, kemudian kembali fokus ke depan kelas.

Jam pelajaran selesai. Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit lalu. Tinggal aku dan Rani yang ada di dalam kelas. Para siswa yang lain sudah keluar. Ada yang ke kantin, ada juga yang hanya duduk-duduk di depan kelas.

“Rani, ayo ke kantin,” ajakku hati-hati. Aku takut Rani terganggu. Dia terlihat fokus mencatat sesuatu di buku pelajarannya.

“Duluan aja. Nanti aku nyusul,” jawab Rani tanpa menengok.

Aku yang waktu itu memang sudah keroncongan, lantas keluar dari kelas, memaklumi sikap Rani.

“Hai, Mei. Mau ke kantin? Yuk, bareng aku.” Seorang siswi mendekat. Seingatku, dia siswi yang duduk di kursi paling depan. Teman sekelasku.

“Ayo,” jawabku.

Kami pun menuju kantin sambil mengobrol ringan. Nama teman baruku ini Suci. Dia anak ekskul bahasa Ingris sekaligus pengurus OSIS. Aku merasa beruntung berkenalan dengan Suci sebab dia banyak memperkenalkan sekolah kepadaku. Dari pertemuan pertama sampai kantin hingga kembali lagi ke kelas, Suci tidak berhenti bercerita. Saat sampai di depan kelas, Suci bercerita tentang seorang siswi yang meninggal karena bunuh diri. Dia melompat dari gedung lantai 3 sekolah kami. Suci belum menceritakan detail kisahnya karena bel masuk lebih dulu berbunyi. Para siswa masuk kelas dengan serentak. Begitu juga aku. Suci segera mengakhiri cerita.

“Nanti deh kapan-kapan aku ceritain, ya. Tenang aja, nggak usah takut.”

Aku mengangguk. Aku sejak dahulu tidak begitu percaya dengan hal-hal mistis atau cerita-cerita horor. Di dunia yang sudah modern seperti ini memang masih ada ya yang seperti itu? Begitu pikirku. Kalau orang bunuh diri, jasadnya mati. Selesai.

Di dalam kelas, Rani masih menulis. Persis seperti saat aku meninggalkannya tadi. Aku duduk di sampingnya. Aku tak menyapa, takut dia terganggu. Guru mata pelajaran berikutnya pun masuk. Bu Ati, guru Bahasa Indonesia.

Kelas berlangsung hingga menjelang pukul 2. Akhirnya, bel panjang berbunyi, pertanda pulang sekolah. Bu Ati mengakhiri materi.

“Untuk tugas di halaman 79 tolong dikerjakan ya, Anak-Anak. Ibu beri kebebasan, bisa kerja mandiri atau berkelompok. Silakan cari partner kelompoknya sendiri. Minggu depan, Ibu periksa,” ucap Bu Ati.

“Iya, Bu,jawab kami semua.

Ibu Ati kemudian keluar kelas. Teman-teman sekelasku juga bersiap-siap untuk pulang. Aku melihat Suci cepat-cepat keluar. Mungkin ada keperluan. Yang lain juga begitu, keluar dari kelas. Sebelum pulang, aku menyempatkan diri mencatat jadwal mata pelajaran yang ditempel di mading kelas. Setelah mencatat, aku memasukkan buku dan hendak keluar. Rani masih sibuk mencatat.

“Ran, belum pulang?” tanyaku hati-hati.

“Duluan aja. Bentar lagi kelar, kok,” jawab Rani. Dia terlihat serius mencatat pelajaran.

“Masih banyak, ya?” tanyaku basa-basi. Di kelas tinggal kami berdua.

“Iya, aku ketinggalan banyak pelajaran. Kamu duluan aja, nanti aku nyusul.” Setelah itu, Rani menengok sekilas kepadaku. Dia tersenyum, tetapi kali ini wajahnya terlihat pucat.

Aku yang merasa aneh tentu saja panik, takut Rani kenapa-kenapa. “Kamu nggak apa-apa, Ran? Kamu sakit?”

Nggak apa-apa. Duluan aja.”

Karena takut sopirku kelamaan menunggu di depan sekolah, aku pun meninggalkan Rani. “Kalau begitu aku duluan, ya.”

Rani mengangguk, tetapi dengan kepala tertunduk. Aku tidak sempat melihat wajahnya.

***

Pukul 20.00, di kamarku.

Aku mengerjakan tugas dari Bu Ati tadi. Materi ini sudah aku lewati saat masih bersekolah di sekolah lama. Jadi, aku tidak begitu kesusahan. Benar, dari 20 soal, aku sudah bisa mengerjakan setengahnya dalam beberapa menit saja.

Tak lama, tiba-tiba aku mendengar Mama memanggil dari bawah. Kebetulan kamarku dan kamar adikku yang masih SMP ada di lantai 2.

“Mei …, Mei. Ada teman kamu.”

“Iya, Ma.” Aku menyahut dari kamar. Di sekolah, aku baru kenal Rani dan Suci. Aku menebak yang datang pasti di antara keduanya. Benar, Rani yang datang. Gadis berkacamata itu memakai rok dan sweater berwarna senada. Gelap. Mukanya sudah tidak pucat lagi. Dia kelihatan berseri.

“Ayo masuk, Nak.” Kudengar Mama menyambutnya.

Aku keluar kamar. Dari lantai 2, aku menunduk sambil berkata, “Langsung naik aja, Ran.”

Rani pun naik ke lantai 2, lantas masuk ke kamarku.

“Selamat datang di kamarku.” Aku sangat senang. Semoga Rani bisa jadi teman akrabku di sini.

Rani tersenyum. “Makasih ya, udah diajak masuk,” ucap Rani. Dia kemudian mengeluarkan buku dari dalam ransel. “Aku ke sini mau ngajak kamu ngerjain tugas dari Bu Ati bareng. Aku kurang paham soalnya.”

“Oh, itu. Aman. Aku udah paham, kok. Aku udah belajar materi itu di sekolah lamaku.” Kami berdua pun mengerjakan tugas itu bersama. Di sela-sela itu, Mama datang membawakan minum dan satu stoples kue kering.

Tidak butuh waktu lama, PR sudah kami kerjakan. Kami bernapas lega. “Diminum, Ran.”

“Iya, nanti aja. Aku belum haus. Eh, aku bisa cerita, nggak?” Kali ini Rani manampakkan mimik serius. Sorot matanya agak berkaca-kaca seperti menahan tangis.

“Boleh, cerita aja. Siapa tahu dengan begitu kamu bisa merasa lega.” Aku duduk lebih dekat dengan Rani, bersiap mendengarkan ceritanya.

“Aku merasa bersalah, Mei. Aku yang salah.” Air mata Rani jatuh.

“Iya, salah kenapa? Ceritain aja, biar lega.”

Rani pun mulai bercerita. “Tepatnya setahun yang lalu, saat aku kelas X. Keluargaku adalah keluarga yang sangat harmonis. Ayahku seorang pegawai kantor di sebuah perusahaan, sementara ibuku memiliki bisnis butik. Aku juga punya adik yang usianya terpaut lima tahun denganku. Ayah ibuku, tidak pernah sama sekali bertengkar. Mereka saling sayang satu sama lain sehingga itu berimbas ke aku dan adikku. Semua kebutuhan kami terpenuhi tanpa kurang sedikit pun. Namun, ada efeknya, aku jadi anak yang manja dan tidak bisa apa-apa. Berbeda dengan anak-anak lain. Aku sangat ketergantungan dengan ayah ibuku, juga pembantu di rumah kami.

“Suatu malam, aku yang belum makan malam karena mengerjakan PR mendadak keroncongan. Waktu itu jam menunjukkan pukul 21.00, seperti sekarang. Kebetulan saat itu pembantu kami sedang meminta cuti selama beberapa hari. Aku keluar kamar, mencari sesuatu di dapur, apa saja yang bisa kumakan. Kubuka kulkas. Sisa makan malam tadi masih ada, tapi perlu dipanaskan. Dan, aku tidak selera. Sementara ibuku sudah tidur. Ayahku juga begitu. Adikku, entahlah. Aku tidak tahu. Dia juga sudah di dalam kamarnya.

Aku yang kelaparan nekat memanaskan lauk yang ada di kulkas tadi dan mungkin menggoreng telur sebagai lauk tambahan. Aku belum pernah memasak sama sekali jadi bingung. Aku menghadap kompor dan mencari tahu bagaimana cara menghidupkannya. Kuputar ke kiri, ke kanan. Beberapa kali terdengar klik, tapi api tak kunjung keluar. Aku mengulanginya terus. Bahkan, bagian tabungnya kuketok-ketok, berharap kompor akan menyala. Selang gasnya kugoyang-goyang. Akhirnya, aku putus asa dan memutuskan menyimpan lagi makanan dan telur tadi ke dalam kulkas. Aku kembali ke kamar dan mengambil dompet. Sepertinya beli roti atau cemilan di minimarket depan perumahan adalah solusi. Ini juga belum terlalu larut, pikirku.

Aku pun keluar rumah dan berjalan kaki ke pintu gerbang perumahan yang tidak begitu jauh. Pak Satpam yang mengenaliku menyapa ringan, lalu membukakan pintu gerbang. Aku menuju minimarket yang tidak jauh. Aku berputar-putar. Malam ini aku ingin makan yang manis-manis. Setelah mendapat apa yang kucari, aku keluar. Beberapa bungkus roti, juga cemilan di dalam plastik putih yang kutenteng. Aku keluar dan hendak kembali ke rumah. Tapi saat melintasi pintu gerbang, di sana sudah tidak ada orang. Satpam yang berjaga tadi tidak ada. Pintu gerbang dibiarkan terbuka. Dari jauh kulihat banyak orang berkerumun di sekitar kompleks rumahku. Terlihat juga cahaya dan kepulan asap di langit.” Rani kemudian diam. Air matanya mengalir. Tak ada lagi suara.

Aku mencoba menangkap cerita Rani barusan. Dadaku berpacu saking tegangnya jika aku yang berada di posisi Rani waktu itu. “Terus, Ran, apa yang terjadi?” Aku menenangkannya.

“Aku yang salah, Mei. Aku yang salah. Aku mau minta maaf ke Ibu, Ayah, dan Fandi adikku. Aku yang salah, Mei. Ini salahku.” Rani terus menangis sesenggukan.

***

“Mei, Mei! Bangun, Mei. Kamu ngigo, ya?”

Aku terbangun. Di samping ranjangku ada Mama. Kulihat sekeliling kamar tidak ada Rani di sana. “Mana Rani, Ma?” tanyaku.

“Rani siapa?”

“Rani teman aku yang datang tadi,” ucapku, masih mencari keberadaan Rani.

“Kamu ngigo, Mei. Nggak ada siapa-siapa. Dari tadi kamu sendirian di kamar. Mama dengar kamu nangis-nangis, makanya Mama ke sini. Kamu mimpi apa, Mei?”

Aku mengatur napas. Tadi itu apa? Rani benar-benar terasa nyata. Apa aku benar-benar bermimpi? Aku pun tenggelam di pelukan Mama. Malam itu, Mama memutuskan menemaniku tidur. Takut aku mengigau lagi.

***

Keesokan hari, Mama yang mengantarku dan adikku ke sekolah. Sebelum menuju sekolah, Mama menyempatkan berkeliling kompleks. Mama ingin mencari tahu perihal mimpiku semalam. Alangkah kagetnya kami, rumah dengan plang nomor 24 itu ada. Namun, tinggal dinding dan beberapa tiang yang berdiri. Bangunannya bekas terbakar.

Aku tidak percaya semua ini. Jadi Rani? Rani itu siapa? Apa dia juga tidak nyata? Karena sedikit macet, hampir saja aku terlambat sampai di sekolah. Apalagi, kami tadi menyempatkan melihat rumah nomor 24 yang katanya rumah Rani. Aku cepat-cepat ke kelas. Bukan karena hampir terlambat, melainkan ingin bertemu Rani. Namun, di dalam kelas, Rani tidak ada. Kursi di sebelahku kosong.

Karena kebetulan hari itu guru pelajaran pertama tidak datang, aku mengajak Suci untuk mengobrol.

“Iya, mau nanya apa, Mei? Kayaknya ada yang penting banget sampe harus ngobrol berdua gini,” ucap Suci saat aku ajak duduk di sampingku, di kursi Rani.

“Kamu tahu kenapa Rani hari ini nggak sekolah?” tanyaku.

“Rani? Rani yang mana?” Suci seperti kaget dengan pertanyaanku.

“Rani yang berkacamata. Yang duduk denganku di sini.”

“Hem kan. Emang selalu begitu setiap ada murid pindahan.” Nada bicara Suci terlihat serius.

“Maksud kamu?”

“Kamu jangan kaget ya, Mei. Rani, Rani yang kamu maksud itu udah meninggal setahun lalu. Dialah siswi yang bunuh diri loncat dari gedung lantai 3, yang aku ceritakan kemarin. Ayah, ibu, dan adiknya menjadi korban saat rumah mereka terbakar. Dengar-dengar sih karena kebocoran gas. Karena kejadian itu, Rani menjadi pendiam dan pemurung. Sepekan setelahnya, dia memutuskan mengakhiri hidup.”

Aku menutup mata. Air mataku mengalir. Aku bisa merasakan pedih di dada Rani seperti saat dia menceritakan semuanya semalam. Dari jendela kelas, di gedung sebelah, dari lantai 3, kulihat Rani melambai-lambai.

*** 


ADA REKOMENDASI BACAAN SERU, NIH!!! 

DUSUN SALAMATA

No. ISBN: 978-623-446-637-9

Penulis: Partikel Atom

Penerbit: LovRinz Publishing

Cetakan Pertama: November 2023

Jenis Buku: Kumpulan Cerpen (Horor)


Bagi teman-teman yang minat, bisa pesan di toko online berikut:

Shopee Penerbit.LovRinzOfficial

Shopee Partikel Atom Bookstore