“Halo, semua. Perkenalkan, nama aku Mei Hariyanti. Panggil saja Mei.” Aku memperkenalkan diri di depan kelas. Ini hari pertamaku bersekolah di SMA Budi Bangsa. Aku baru pindah dari ibu kota. Di sini, ayahku ada urusan pekerjaan. Jadi, kami sekeluarga juga ikut pindah ke sini.
Para
siswa kelas XI
IPS 2 menyambut riuh. Mereka memberikan respons positif terhadap kehadiranku.
“Silakan duduk di kursi sebelah sana, ya.” Pak Muhidin, guru yang membawaku tadi, mengarahkan. Dia menunjuk sebuah kursi kosong paling pojok. Hanya kursi itu yang tidak ditempati.
Aku
berucap syukur karena masih
mendapat tempat. Aku pun ke sana. Terdengar bisik-bisik para siswi saat aku
melintasi mereka.
“Semoga
nggak
terjadi apa-apa lagi.”
Begitu
suara yang kutangkap. Namun,
aku tidak paham apa maksud mereka. Aku duduk di kursi yang dimaksud. Kemudian, aku menyapa teman sebangku.
“Hai.” Aku melempar senyum dan mengulurkan tangan.
Siswi
yang
kemudian memperkenalkan diri
sebagai Rani itu menyambut. Kami bersalaman, lalu mengobrol ringan. Aku
sempat bertanya mengenai alamat rumahnya. Kata Rani, dia tinggal di Perumahan Griya Fajar
Indah No. 24. Aku sangat senang.
Ternyata rumah baru keluarga kami berdekatan dengan rumah Rani, masih satu kompleks. Tidak begitu panjang
obrolan kami, kemudian kembali fokus ke depan kelas.
Jam
pelajaran selesai. Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit lalu. Tinggal
aku dan Rani yang ada di dalam kelas. Para siswa yang lain sudah keluar. Ada
yang ke kantin, ada juga yang hanya duduk-duduk di depan kelas.
“Rani,
ayo ke kantin,” ajakku hati-hati. Aku takut Rani terganggu. Dia terlihat fokus
mencatat sesuatu di buku pelajarannya.
“Duluan
aja. Nanti aku nyusul,” jawab Rani tanpa menengok.
Aku
yang waktu itu memang sudah keroncongan, lantas keluar dari kelas, memaklumi sikap Rani.
“Hai, Mei. Mau ke kantin? Yuk, bareng aku.” Seorang
siswi mendekat. Seingatku, dia siswi yang duduk di kursi paling depan. Teman
sekelasku.
“Ayo,”
jawabku.
Kami
pun menuju kantin sambil mengobrol ringan. Nama teman baruku ini Suci. Dia anak
ekskul
bahasa
Ingris sekaligus pengurus OSIS. Aku merasa beruntung berkenalan dengan Suci sebab dia banyak memperkenalkan
sekolah kepadaku. Dari pertemuan pertama sampai kantin hingga kembali lagi ke
kelas, Suci tidak berhenti bercerita. Saat sampai di depan kelas, Suci bercerita tentang seorang
siswi yang meninggal karena
bunuh diri. Dia melompat dari gedung lantai 3 sekolah kami. Suci belum
menceritakan
detail kisahnya karena
bel masuk lebih dulu berbunyi. Para siswa masuk kelas dengan serentak. Begitu
juga aku. Suci segera mengakhiri cerita.
“Nanti
deh kapan-kapan aku ceritain,
ya. Tenang aja, nggak
usah takut.”
Aku
mengangguk. Aku sejak dahulu tidak begitu percaya dengan hal-hal mistis atau
cerita-cerita horor. Di dunia yang sudah modern seperti ini memang masih ada ya yang
seperti itu? Begitu pikirku. Kalau orang bunuh diri, jasadnya mati. Selesai.
Di
dalam kelas, Rani masih menulis. Persis seperti saat aku meninggalkannya
tadi. Aku duduk di sampingnya. Aku
tak menyapa, takut dia terganggu. Guru mata
pelajaran berikutnya pun masuk. Bu Ati, guru Bahasa Indonesia.
Kelas
berlangsung hingga menjelang pukul 2. Akhirnya, bel panjang berbunyi, pertanda pulang sekolah.
Bu Ati mengakhiri materi.
“Untuk
tugas di halaman 79 tolong dikerjakan ya, Anak-Anak. Ibu beri kebebasan,
bisa kerja mandiri atau berkelompok. Silakan cari partner kelompoknya sendiri.
Minggu depan,
Ibu
periksa,” ucap Bu Ati.
“Iya,
Bu,”
jawab kami semua.
Ibu
Ati kemudian
keluar kelas. Teman-teman
sekelasku juga bersiap-siap untuk pulang. Aku melihat Suci cepat-cepat
keluar. Mungkin ada keperluan. Yang lain juga begitu, keluar dari kelas. Sebelum pulang, aku menyempatkan diri mencatat jadwal mata
pelajaran yang ditempel di mading kelas. Setelah mencatat, aku memasukkan buku
dan hendak keluar. Rani masih sibuk mencatat.
“Ran,
belum pulang?” tanyaku hati-hati.
“Duluan
aja. Bentar lagi kelar,
kok,” jawab Rani. Dia terlihat serius mencatat pelajaran.
“Masih
banyak,
ya?” tanyaku basa-basi. Di kelas tinggal kami berdua.
“Iya,
aku ketinggalan banyak pelajaran. Kamu duluan aja, nanti aku nyusul.” Setelah
itu,
Rani menengok sekilas kepadaku. Dia
tersenyum,
tetapi
kali ini wajahnya terlihat pucat.
Aku
yang merasa aneh tentu saja panik,
takut
Rani kenapa-kenapa. “Kamu nggak
apa-apa, Ran? Kamu sakit?”
“Nggak apa-apa. Duluan aja.”
Karena
takut sopirku
kelamaan menunggu di depan sekolah, aku pun meninggalkan Rani. “Kalau begitu
aku duluan,
ya.”
Rani
mengangguk,
tetapi
dengan kepala tertunduk. Aku tidak sempat melihat wajahnya.
***
Pukul 20.00, di kamarku.
Aku
mengerjakan tugas dari Bu Ati tadi. Materi ini sudah aku lewati saat masih
bersekolah di sekolah lama. Jadi,
aku tidak begitu kesusahan. Benar, dari 20 soal, aku sudah bisa
mengerjakan setengahnya dalam beberapa menit saja.
Tak lama, tiba-tiba aku
mendengar Mama
memanggil dari bawah. Kebetulan kamarku dan kamar adikku yang masih SMP ada di
lantai 2.
“Mei
…,
Mei. Ada teman kamu.”
“Iya,
Ma.” Aku menyahut dari kamar. Di sekolah, aku baru kenal Rani dan Suci. Aku
menebak yang datang pasti di antara keduanya. Benar, Rani yang datang. Gadis
berkacamata itu memakai rok dan sweater berwarna senada. Gelap.
Mukanya sudah tidak pucat lagi. Dia kelihatan berseri.
“Ayo
masuk, Nak.” Kudengar Mama
menyambutnya.
Aku
keluar kamar.
Dari
lantai 2,
aku menunduk sambil
berkata, “Langsung naik aja, Ran.”
Rani
pun naik ke lantai 2,
lantas masuk
ke kamarku.
“Selamat
datang di kamarku.” Aku sangat senang. Semoga Rani bisa jadi teman akrabku di
sini.
Rani
tersenyum. “Makasih ya,
udah diajak masuk,” ucap Rani. Dia kemudian mengeluarkan buku dari dalam
ransel. “Aku ke sini mau ngajak kamu ngerjain tugas dari Bu Ati bareng. Aku
kurang paham soalnya.”
“Oh, itu. Aman. Aku udah
paham,
kok. Aku udah belajar
materi itu di sekolah lamaku.” Kami berdua pun mengerjakan tugas itu bersama.
Di sela-sela itu,
Mama
datang membawakan minum dan satu
stoples kue kering.
Tidak
butuh waktu lama,
PR sudah kami kerjakan. Kami bernapas lega. “Diminum, Ran.”
“Iya,
nanti aja. Aku
belum haus. Eh,
aku bisa cerita,
nggak?”
Kali ini Rani manampakkan
mimik serius. Sorot
matanya agak berkaca-kaca seperti menahan tangis.
“Boleh,
cerita aja. Siapa tahu dengan begitu kamu bisa merasa lega.” Aku duduk lebih
dekat dengan Rani,
bersiap
mendengarkan ceritanya.
“Aku
merasa bersalah, Mei. Aku yang salah.” Air mata Rani jatuh.
“Iya,
salah kenapa? Ceritain aja,
biar lega.”
Rani
pun mulai bercerita. “Tepatnya setahun yang lalu, saat aku kelas X. Keluargaku adalah
keluarga yang sangat harmonis. Ayahku seorang pegawai kantor di sebuah
perusahaan,
sementara
ibuku
memiliki bisnis butik. Aku juga punya adik yang usianya terpaut lima tahun
denganku. Ayah ibuku, tidak pernah sama sekali bertengkar. Mereka saling
sayang satu sama lain
sehingga itu berimbas ke aku dan adikku. Semua
kebutuhan kami terpenuhi tanpa kurang sedikit pun. Namun, ada efeknya, aku jadi
anak yang manja dan tidak bisa apa-apa. Berbeda dengan anak-anak lain. Aku
sangat ketergantungan dengan ayah ibuku, juga pembantu di rumah
kami.
“Suatu malam, aku yang
belum makan malam karena mengerjakan PR mendadak keroncongan. Waktu itu jam menunjukkan pukul 21.00, seperti
sekarang. Kebetulan saat itu pembantu kami sedang meminta cuti selama beberapa
hari. Aku keluar kamar,
mencari
sesuatu di dapur,
apa saja yang
bisa kumakan. Kubuka kulkas. Sisa makan malam tadi masih ada, tapi perlu
dipanaskan. Dan,
aku tidak selera. Sementara ibuku sudah tidur. Ayahku juga begitu. Adikku,
entahlah.
Aku
tidak
tahu. Dia juga sudah di dalam kamarnya.
“Aku yang kelaparan nekat
memanaskan lauk yang ada di kulkas
tadi dan mungkin menggoreng telur sebagai lauk tambahan. Aku belum pernah
memasak sama sekali jadi
bingung. Aku menghadap kompor dan
mencari tahu bagaimana cara menghidupkannya. Kuputar ke kiri, ke kanan.
Beberapa kali terdengar klik,
tapi
api tak kunjung keluar. Aku mengulanginya terus. Bahkan, bagian tabungnya
kuketok-ketok,
berharap kompor akan menyala.
Selang gasnya kugoyang-goyang. Akhirnya, aku putus asa dan
memutuskan menyimpan lagi makanan dan telur tadi ke dalam kulkas. Aku kembali
ke kamar dan mengambil dompet. Sepertinya beli roti atau cemilan di minimarket depan perumahan adalah solusi.
Ini juga belum terlalu larut, pikirku.
“Aku pun keluar rumah dan berjalan kaki ke pintu
gerbang perumahan yang tidak begitu jauh. Pak Satpam yang mengenaliku
menyapa ringan, lalu
membukakan pintu gerbang. Aku menuju minimarket
yang tidak jauh. Aku berputar-putar. Malam ini aku ingin makan yang
manis-manis. Setelah mendapat apa yang kucari, aku keluar. Beberapa bungkus
roti, juga cemilan di dalam plastik putih yang kutenteng. Aku keluar dan hendak
kembali ke rumah. Tapi saat melintasi pintu gerbang, di sana sudah tidak ada
orang. Satpam yang berjaga tadi tidak ada. Pintu gerbang dibiarkan terbuka.
Dari jauh kulihat banyak orang berkerumun di sekitar kompleks rumahku. Terlihat juga
cahaya dan kepulan asap di langit.” Rani kemudian diam. Air matanya mengalir.
Tak ada lagi suara.
Aku
mencoba menangkap cerita Rani barusan. Dadaku berpacu saking tegangnya jika aku
yang berada
di posisi Rani waktu itu. “Terus,
Ran, apa yang terjadi?” Aku menenangkannya.
“Aku
yang salah, Mei. Aku yang salah. Aku mau minta maaf ke Ibu, Ayah, dan Fandi adikku. Aku yang
salah, Mei. Ini salahku.” Rani terus menangis sesenggukan.
***
“Mei, Mei! Bangun, Mei. Kamu
ngigo,
ya?”
Aku
terbangun. Di samping ranjangku ada Mama. Kulihat sekeliling kamar tidak ada
Rani di sana. “Mana Rani, Ma?” tanyaku.
“Rani
siapa?”
“Rani
teman aku yang datang tadi,” ucapku, masih mencari keberadaan Rani.
“Kamu
ngigo,
Mei. Nggak
ada siapa-siapa. Dari tadi kamu sendirian di kamar. Mama dengar
kamu nangis-nangis,
makanya Mama
ke sini. Kamu mimpi apa,
Mei?”
Aku
mengatur
napas. Tadi itu apa? Rani benar-benar terasa nyata. Apa aku benar-benar bermimpi? Aku pun tenggelam
di pelukan Mama.
Malam itu, Mama
memutuskan menemaniku tidur. Takut aku mengigau lagi.
***
Keesokan
hari, Mama
yang mengantarku dan adikku ke sekolah. Sebelum menuju sekolah, Mama menyempatkan
berkeliling kompleks.
Mama ingin
mencari tahu perihal mimpiku semalam. Alangkah kagetnya kami, rumah dengan
plang nomor 24 itu ada. Namun,
tinggal dinding dan beberapa tiang yang berdiri. Bangunannya bekas terbakar.
Aku
tidak percaya semua ini. Jadi …
Rani? Rani itu siapa? Apa dia juga tidak nyata? Karena
sedikit macet, hampir saja aku terlambat sampai di sekolah.
Apalagi,
kami tadi menyempatkan melihat rumah nomor 24 yang katanya rumah
Rani. Aku cepat-cepat ke kelas. Bukan karena hampir terlambat, melainkan ingin bertemu
Rani. Namun,
di dalam kelas,
Rani tidak ada. Kursi di sebelahku kosong.
Karena
kebetulan hari itu guru pelajaran pertama tidak datang, aku mengajak Suci untuk
mengobrol.
“Iya, mau nanya apa, Mei?
Kayaknya ada yang penting banget sampe harus ngobrol berdua gini,” ucap Suci
saat aku ajak duduk di sampingku, di kursi Rani.
“Kamu
tahu
kenapa Rani hari ini nggak
sekolah?” tanyaku.
“Rani?
Rani yang mana?” Suci seperti kaget dengan pertanyaanku.
“Rani
yang berkacamata. Yang duduk denganku di sini.”
“Hem … kan. Emang selalu begitu
setiap ada murid pindahan.” Nada bicara Suci terlihat serius.
“Maksud
kamu?”
“Kamu
jangan kaget ya,
Mei. Rani, Rani yang kamu maksud itu udah meninggal setahun lalu. Dialah siswi yang bunuh
diri loncat dari gedung lantai 3,
yang aku ceritakan kemarin. Ayah, ibu, dan adiknya menjadi korban saat rumah mereka
terbakar.
Dengar-dengar
sih karena kebocoran gas. Karena kejadian itu, Rani menjadi pendiam dan
pemurung. Sepekan setelahnya,
dia
memutuskan mengakhiri hidup.”
Aku
menutup mata.
Air mataku
mengalir. Aku bisa merasakan pedih di dada Rani seperti saat dia menceritakan
semuanya semalam. Dari jendela kelas, di gedung sebelah, dari lantai 3, kulihat Rani melambai-lambai.
***
ADA REKOMENDASI BACAAN SERU, NIH!!!
DUSUN SALAMATA
No. ISBN: 978-623-446-637-9
Penulis: Partikel Atom
Penerbit: LovRinz Publishing
Cetakan Pertama: November 2023
Jenis Buku: Kumpulan Cerpen (Horor)
Bagi teman-teman yang minat, bisa pesan di toko online berikut:
• Shopee Penerbit.LovRinzOfficial
• Shopee Partikel Atom Bookstore
