Senin, 14 April 2025

Curhat: Saya dan Komputer

           Saya berasal dari sebuah pulau terpencil, tempat laut membentang luas dan ombak menjadi suara latar kehidupan sehari-hari. Di sana, kami hidup dalam keterbatasan yang bagi banyak orang mungkin sulit dibayangkan. Ketika malam tiba, kegelapan menyelimuti kampung saya, hanya diterangi oleh lampu minyak dan cahaya bulan yang samar-samar menembus jendela rumah-rumah kayu.

Saat saya masih sekolah, listrik belum sepenuhnya masuk ke desa kami. Hanya beberapa rumah yang memiliki aliran listrik, itu pun terbatas, tidak 24 jam seperti di kota. Kami bergantung pada mesin diesel yang hanya dinyalakan beberapa jam setiap malam. Ketika malam tiba, saya harus berlomba dengan waktu untuk belajar sebelum lampu-lampu padam.

Teknologi? Itu adalah sesuatu yang hanya saya dengar dari cerita guru atau lihat melalui gambar di buku pelajaran. Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menjadi mata pelajaran yang paling absurd bagi kami. Bayangkan, kami belajar tentang komputer, tentang perangkat keras dan perangkat lunak, tentang bagaimana mengoperasikan Microsoft Word atau Excel, tetapi semuanya hanya sebatas teori. Tidak ada yang benar-benar memahami bagaimana komputer bekerja, karena kami tidak pernah melihatnya secara langsung.

Di buku panduan, ada gambar komputer dengan CPU, monitor, keyboard, dan mouse. Bentuknya seperti benda ajaib dari dunia lain. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya mengetik di keyboard atau menggerakkan kursor dengan mouse. Bahkan, beberapa teman mengira kalau komputer itu bisa bicara sendiri seperti di film-film. Kami sering tertawa-tawa membahasnya, tetapi jauh di lubuk hati, ada keinginan besar untuk benar-benar bisa menyentuh dan menggunakannya.

Hingga suatu hari, berita besar datang ke sekolah kami. Sekolah mendapatkan bantuan satu unit komputer dari pemerintah. Hanya satu, tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kami semua bersemangat. Hari ketika komputer itu datang menjadi hari yang penuh euforia. Kepala sekolah, para guru, dan semua murid berkumpul di ruang guru, tempat komputer itu pertama kali diletakkan. Saya masih ingat bagaimana kami semua mengerumuni kotak besar itu, menatap benda ajaib yang selama ini hanya ada dalam imajinasi kami.

Saat komputer itu dinyalakan, muncul suara dengungan pelan, lalu layar mulai menyala. Cahaya dari layar itu seolah menyihir kami semua. Kami terdiam, terpana, seperti sedang menyaksikan sesuatu yang luar biasa. Guru kami menjelaskan bahwa komputer ini akan digunakan dalam pelajaran TIK, tetapi karena jumlahnya hanya satu, kami harus bergantian menggunakannya.

Namun, ada satu masalah besar, kami semua takut.

Takut salah pencet. Takut merusak. Takut jika karena satu kesalahan kecil, benda ajaib itu tidak bisa menyala lagi. Saya sendiri merasa cemas setiap kali melihat kursor bergerak di layar. Jari-jari saya kaku saat mencoba menyentuh keyboard. Setiap huruf yang saya tekan terasa seperti keputusan besar yang tidak boleh salah.

Saya ingat pertama kali saya berani meletakkan tangan di atas keyboard. Jantung saya berdegup kencang. Saya mengikuti instruksi guru untuk mengetik nama saya di layar. Satu huruf. Dua huruf. Perlahan-lahan, nama saya muncul di layar. Ada perasaan bangga yang luar biasa. Saya tersenyum, menoleh ke teman-teman yang juga menatap layar dengan mata berbinar. Kami saling berbisik, saling mendukung, dan saling belajar satu sama lain.

Sejak hari itu, saya tidak lagi takut. Rasa penasaran mengalahkan rasa cemas. Saya mulai belajar cara menggunakan komputer, mengetik lebih cepat, bahkan mencoba menggambar dengan aplikasi sederhana. Saya menyadari bahwa dunia yang lebih luas terbentang di balik layar itu.

Kini, saya sudah jauh dari kampung halaman. Teknologi bukan lagi sesuatu yang asing bagi saya. Saya bisa mengakses internet, menggunakan ponsel pintar, dan bekerja dengan komputer setiap hari. Tetapi, setiap kali saya melihat layar komputer, saya selalu teringat pada hari pertama saya menyentuh keyboard di sekolah, hari di mana sebuah layar kecil membukakan pintu ke dunia yang lebih luas.

Beruntunglah kalian yang bisa bersekolah dengan fasilitas yang memadai. Beruntunglah kalian yang bisa belajar dengan akses ke teknologi tanpa batas. Gunakan semua itu dengan baik. Karena di luar sana, masih banyak anak-anak yang harus berjuang untuk sekadar menyentuh komputer. Masih banyak yang bercita-cita tinggi tetapi terhalang oleh keterbatasan. Jangankan komputer, buku bacaan pun masih sulit mereka dapatkan.

Mereka juga ingin belajar. Mereka juga ingin maju. Mereka hanya butuh kesempatan, seperti yang dulu akhirnya saya dapatkan.

           Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa saya ceritakan ini? Kalau kamu bertanya demikian. Jawabannya adalah, saya yakin di antara pembaca pasti ada yag suka mengeluhkan tentang keterbatasan. Malas menulis atau aktifitas positif lainnya karena tidak punya laptop lah, tidak punya HP lah, tidak punya fasilitas lah, padahal syarat utama untuk mencapai mimpi adalah kemauan terlebih dahulu, fasilitas itu nomor ke sekian. Kalau kamu sudah mau, maka rintangan apa pun akan dihadang. Kalau kamu mengaku memulai dari nol, maka saya memulai dari minus. Seperti apa yang saya ceritakan di atas.

           Itu adalah sedikit cerita dari saya. Cerita perjalanan kepenulisan saya, saya rangkum dalam buku terbaru saya yang akan rilis satu bulan lagi.




BE A WRITER

Saya bisa jadi penulis, kamu juga bisa!


Ditunggu rilisnya. Info tentang buku ini akan selalu diupdate di media sosial saya dan di channel KELAS KEPENULISAN PARA LOVERS.