Saya berasal dari sebuah pulau terpencil, tempat laut membentang luas dan ombak menjadi suara latar kehidupan sehari-hari. Di sana, kami hidup dalam keterbatasan yang bagi banyak orang mungkin sulit dibayangkan. Ketika malam tiba, kegelapan menyelimuti kampung saya, hanya diterangi oleh lampu minyak dan cahaya bulan yang samar-samar menembus jendela rumah-rumah kayu.
Saat saya masih sekolah, listrik belum sepenuhnya
masuk ke desa kami. Hanya beberapa rumah yang memiliki aliran listrik, itu pun
terbatas, tidak 24 jam seperti di kota. Kami bergantung pada mesin diesel yang
hanya dinyalakan beberapa jam setiap malam. Ketika malam tiba, saya harus
berlomba dengan waktu untuk belajar sebelum lampu-lampu padam.
Teknologi? Itu adalah sesuatu yang hanya saya dengar
dari cerita guru atau lihat melalui gambar di buku pelajaran. Mata pelajaran
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menjadi mata pelajaran yang paling
absurd bagi kami. Bayangkan, kami belajar tentang komputer, tentang perangkat
keras dan perangkat lunak, tentang bagaimana mengoperasikan Microsoft Word atau
Excel, tetapi semuanya hanya sebatas teori. Tidak ada yang benar-benar memahami
bagaimana komputer bekerja, karena kami tidak pernah melihatnya secara
langsung.
Di buku panduan, ada gambar komputer dengan CPU,
monitor, keyboard, dan mouse. Bentuknya seperti benda ajaib dari dunia lain.
Saya hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya mengetik di keyboard atau
menggerakkan kursor dengan mouse. Bahkan, beberapa teman mengira kalau komputer
itu bisa bicara sendiri seperti di film-film. Kami sering tertawa-tawa
membahasnya, tetapi jauh di lubuk hati, ada keinginan besar untuk benar-benar
bisa menyentuh dan menggunakannya.
Hingga suatu hari, berita besar datang ke sekolah
kami. Sekolah mendapatkan bantuan satu unit komputer dari pemerintah. Hanya
satu, tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kami semua bersemangat.
Hari ketika komputer itu datang menjadi hari yang penuh euforia. Kepala
sekolah, para guru, dan semua murid berkumpul di ruang guru, tempat komputer
itu pertama kali diletakkan. Saya masih ingat bagaimana kami semua mengerumuni
kotak besar itu, menatap benda ajaib yang selama ini hanya ada dalam imajinasi
kami.
Saat komputer itu dinyalakan, muncul suara dengungan
pelan, lalu layar mulai menyala. Cahaya dari layar itu seolah menyihir kami
semua. Kami terdiam, terpana, seperti sedang menyaksikan sesuatu yang luar
biasa. Guru kami menjelaskan bahwa komputer ini akan digunakan dalam pelajaran
TIK, tetapi karena jumlahnya hanya satu, kami harus bergantian menggunakannya.
Namun, ada satu masalah besar, kami semua takut.
Takut salah pencet. Takut merusak. Takut jika karena
satu kesalahan kecil, benda ajaib itu tidak bisa menyala lagi. Saya sendiri
merasa cemas setiap kali melihat kursor bergerak di layar. Jari-jari saya kaku
saat mencoba menyentuh keyboard. Setiap huruf yang saya tekan terasa seperti
keputusan besar yang tidak boleh salah.
Saya ingat pertama kali saya berani meletakkan
tangan di atas keyboard. Jantung saya berdegup kencang. Saya mengikuti
instruksi guru untuk mengetik nama saya di layar. Satu huruf. Dua huruf.
Perlahan-lahan, nama saya muncul di layar. Ada perasaan bangga yang luar biasa.
Saya tersenyum, menoleh ke teman-teman yang juga menatap layar dengan mata
berbinar. Kami saling berbisik, saling mendukung, dan saling belajar satu sama
lain.
Sejak hari itu, saya tidak lagi takut. Rasa
penasaran mengalahkan rasa cemas. Saya mulai belajar cara menggunakan komputer,
mengetik lebih cepat, bahkan mencoba menggambar dengan aplikasi sederhana. Saya
menyadari bahwa dunia yang lebih luas terbentang di balik layar itu.
Kini, saya sudah jauh dari kampung halaman.
Teknologi bukan lagi sesuatu yang asing bagi saya. Saya bisa mengakses
internet, menggunakan ponsel pintar, dan bekerja dengan komputer setiap hari.
Tetapi, setiap kali saya melihat layar komputer, saya selalu teringat pada hari
pertama saya menyentuh keyboard di sekolah, hari di mana sebuah layar kecil
membukakan pintu ke dunia yang lebih luas.
Beruntunglah kalian yang bisa bersekolah dengan
fasilitas yang memadai. Beruntunglah kalian yang bisa belajar dengan akses ke
teknologi tanpa batas. Gunakan semua itu dengan baik. Karena di luar sana,
masih banyak anak-anak yang harus berjuang untuk sekadar menyentuh komputer.
Masih banyak yang bercita-cita tinggi tetapi terhalang oleh keterbatasan.
Jangankan komputer, buku bacaan pun masih sulit mereka dapatkan.
Mereka juga ingin belajar. Mereka juga ingin maju.
Mereka hanya butuh kesempatan, seperti yang dulu akhirnya saya dapatkan.
