“Ayo, Kak Salwa. Kita cari es krim,” ucap Niken.
“Nggak ah, takut dicari Mami. Kita tunggu Mami bentar, ya.” Salwa yang terpaut tiga tahun dari Niken mengingatkan. Dia kemudian menggandeng tangan adik angkatnya itu ke trotoar yang dinaungi sebuah pohon.
Mami sedang dalam perjalanan menjemput mereka. Hari ini jadwal les Bahasa Inggris Salwa. Namun, Niken yang masih berumur kurang dari enam tahun, pada beberapa keadaan suka mengikuti kakaknya itu.
“Ayo,
Kak. Adek pengin
es krim. Please, ya.” Niken merayu dengan sedikit memelas.
Melihat
adiknya yang sepertinya sangat ingin makan es krim, Salwa menengok sekitar.
Siapa tahu di dekat sini ada minimarket. Sehingga ia bisa ke sana
sebentar untuk membelikan adiknya ini es krim. Betul, di ujung jalan ada sebuah
minimarket.
“Ayo
kita ke sana bentar, Dek,” ucap Salwa sembari menunjuk minimarket.
“Terus
kalau Mami
datang gimana?”
“Hem ….” Salwa berpikir.
Belum
sempat Salwa berpendapat, Niken lebih dulu memberikan solusi. “Gimana kalau Kak
Salwa aja yang ke sana. Adek tunggu di sini. Buat jaga-jaga. Siapa tahu Mami datang.”
“Ide
bagus. Tunggu bentar ya, Dek. Es krim
rasa vanila,
kan? Seperti biasa.”
Niken
mengangguk semangat. Salwa pun pergi.
***
Salwa POV
Aku
melangkah meninggalkan Niken. Aku tidak lama, hanya pergi membeli es
krim untuknya. Meskipun
Niken
hanya adik angkat yang diadposi Mami
sama Papi
setahun lalu, aku sangat menyayanginya. Aku rela berbagi semua mainan dengannya. Apa yang dia
mau dan itu bisa
kuberikan
untuknya, aku akan beri
sebisanya.
Niken
adalah anak yang lucu. Dia juga masih begitu polos. Makanya, aku akan selalu
bersamanya. Mengajari ini-itu
agar kelak saat mulai bersekolah, dia tidak gampang diganggu oleh
teman-temannya. Aku sangat sayang kepadanya. Dia adikku.
Aku
pun melintasi
jalan menuju
minimarket di seberang. Setelah
berhasil menyeberang, aku sempat menengok ke arah Niken. Dia melambai-lambai.
Aku tersenyum. Lagi-lagi dia terlalu menggemaskan bagiku.
Aku
pun masuk ke minimarket, mencari apa yang adikku
inginkan tadi, es krim rasa vanila. Aku mengambil empat bungkus; dua rasa
vanila dan dua rasa stroberi.
Itu untukku. Aku tidak membeli sesuatu lain. Aku langsung menuju kasir untuk
membayar keempat es krim itu. Setelah transaksi selesai, aku pun keluar.
Di
seberang, Niken masih berdiri dengan tas merah muda di punggung. Dia belum
begitu fasih membaca, tetapi
semangatnya ingin ikut setiap kali kursus membuatku senang. ‘Niken pengin jadi pinter kayak Kak
Salwa, pengin
jadi juara biar banyak piala,’ begitu ucap Niken saat
ke sekolahku bersama Mami
dan Papi
pada
hari kenaikan kelas.
Dari
tempatnya berdiri, Niken kembali melambai. Dia ternyata terus memperhatikanku.
Aku segera berjalan untuk melintas. Namun, sebelum itu aku
berpapasan dengan seorang nenek. Badannya sudah bungkuk. Wajah dan kulit
tangannya keriput. Dia
memicingkan
mata melawan
cahaya mentari
sore, terlihat
begitu kesusahan dengan karung yang dia bawa. Aku merasa iba dan terpikirkan
untuk membantu.
“Nenek
mau ke mana?” tanyaku.
Si
nenek melirik padaku. “Ke sebelah sana, Nak. Nggak jauh, kok.” Dia menunjuk
gerobak yang terparkir di depan sebuah ruko kosong.
“Ayo,
Nek. Saya bantu.” Aku pun berusaha mengangkat karung yang dibawa si nenek.
Tidak berat. Aku menebak isinya mungkin botol-botol plastik atau sejenisnya sehingga aku mampu
mengangkatnya dengan sebelah tangan. Tanganku satu lagi memegang
kantong plastik berisi es krim.
Aku
berusaha menyamai langkah si nenek yang pelan-pelan. Tidak ada obrolan. Kami
pun tiba di gerobak.
“Akhirnya
sampe juga ya, Nek,” ucapku ramah.
“Makasih
ya, Nak. Kamu baik sekali. Pasti orang tuamu juga baik sehingga berhasil mendidik
anak seperti kamu.”
Aku
hanya tersenyum.
Tersipu malu.
Si
nenek kemudian mengangkat pandangannya ke arahku. Aku masih berdiri di
dekatnya. “Tadi kamu ke sini dengan siapa?”
“Dengan
adikku. Dia sedang menunggu di sana,” jawabku sembari menunjuk ke arah Niken
berdiri yang memang terlihat dari tempat kami berdiri sekarang.
Si
nenek ikut menengok mengikuti telunjukku. Dia kemudian berbalik. Kali ini
matanya memelotot
hingga keriput di wajahnya semakin
terlihat. “Kalian terlalu baik. Kalian sudah salah
mengadopsi anak itu.”
***
Niken POV
Aku
melambai ke arah Kak
Salwa,
memasang
muka ceria. Itu bukan bahagia pura-pura. Itu adalah bahagia yang sebenarnya.
Aku sebenarnya sedang memberikan lambaian terakhirku kepada kakak yang cantik
dan baik hati itu. Tidak, ralat. Kepada kakakku yang terlalu baik hati itu.
Aku
adalah anak yang mereka pungut setahun lalu, anak berumur lima tahun
yang mereka temukan kelaparan di pinggir jalan. Mereka bertanya tentang
keluargaku. Aku tak tahu. Aku tidak pernah tahu. Bahkan, awalnya aku tidak tahu
apa itu keluarga. Aku hanya tahu diri sendiri. Hidup untuk makan dengan mengemis
atau jadi pengamen.
Mereka
menatapku dengan perasaan iba. Ya, mereka: Mami, Papi, dan Kak Salwa yang
sekarang aku sebut keluarga. Jujur aku tidak pernah suka dengan tatapan iba
seperti itu. Selama ini aku hidup di bawah belas kasihan orang. Aku tahu,
orang-orang memberiku uang recehan bukan karena suara dan lagu yang aku
nyanyikan terdengar bagus,
melainkan karena belas kasihan. Be-las ka-si-han. Dan, aku merasa diperlakukan
begitu oleh keluarga Kak Salwa. Mereka mengajakku ke rumah. Mereka memberiku
makan, minum, pakaian,
dan tempat tinggal.
Lagi-lagi, aku tidak suka
tatapan belas kasihan itu. Aku tidak suka. Aku iri dengan hidup anak-anak lain.
Termasuk kakakku, Salwa. Aku melihat tatapan mami-papiku kepadanya adalah
tatapan kasih sayang yang tulus. Aku bisa melihat itu dari pandangan mereka
yang berbinar. Pikiran
untuk menjadi anak mereka satu-satunya itu pun muncul. Siapa tahu
dengan itu, tatapan iba dan belas kasihan tadi hilang, berganti menjadi tatapan
tulus dan penuh kasih sayang.
Di
suatu sore, kira-kira sepekan lalu, saat sedang bermain di depan rumah, datang seorang nenek
pemulung. Aku yang sudah tinggal kurang lebih setahun bersama keluarga ini juga
dididik untuk berbuat baik ke sesama. Nenek tadi ingin minum. Aku masuk ke
rumah. Di rumah tidak ada orang selain aku dan Kak Salwa. Dia sedang di kamarnya,
katanya akan mengerjakan PR sebentar kemudian menemaniku bermain bersama di
depan rumah.
Aku
pergi ke dapur,
membuka
kulkas,
mengambil
sebotol air minum dan sebuah gelas. Tidak lama, aku keluar lagi. Si
nenek pun minum. Setelah minum, dengan suara berbisik, dia mendekat. “Makasih ya,
Nak. Kamu baik sekali. Pasti orang tuamu juga baik sehingga berhasil mendidik
anak seperti kamu.”
Aku
terlihat murung. “Mereka bukan orang tuaku,” ucapku.
“Mereka
bisa jadi orang tuamu,” kata si nenek.
Aku
menatapnya kebingungan.
“Nenek
akan membantumu jika kamu mau.”
Hari ini, sesuai arahan si
nenek,
aku
ingin melihat kebenaran ucapannya itu. Dari apa yang dia janjikan, aku yakin
hidupku ke depannya
akan lebih cerah. Tidak ada lagi tatapan iba, tidak ada belas kasihan. Aku akan
hidup normal,
tetapi
dengan syarat,
kubawakan kakakku untuknya.
***
Lima tahun kemudian
“Niken!
Ayo, Niken! Nanti kamu bisa telat sekolah!” seru Mami. Hari ini hari ujian
di sekolah. Penentuan naik ke kelas enam. Aku pun segera turun dari lantai 2. Sambil menenteng tas di punggung, aku mengait
roti di meja dan menyusul Mami
yang sudah menuju mobil. Kata Mami, dia akan terus mengantar jemput aku meskipun sebenarnya kami
punya sopir
pribadi. Itu juga sesuai arahan Papi.
Mereka sangat khawatir akan keselamatanku. Mereka tidak mau
kehilangan aku. Mereka tidak mau kehilangan anak mereka lagi. Seperti lima
tahun lalu, saat Kak
Salwa hilang,
ketika
kami pulang les Bahasa
Inggris.
Hingga
hari ini,
dia
tidak pernah lagi kembali. Berbagai usaha sudah dilakukan Mami dan Papi. Jejak terakhirnya
terekam oleh CCTV minimarket sebelum melintas
jalan. Dia
tidak
melintas, tetapi
berjalan sendiri semakin menjauh dari minimarket.
Setelah berada di titik buta yang tidak terekam oleh CCTV minimarket dan ruko-ruko di sebelahnya. Kak Salwa menghilang.
Aku
merasa kehilangan waktu itu. Namun,
lama-kelamaan
aku merasa puas sebab
sekarang semua berubah. Seperti yang dikatakan si nenek waktu itu. Aku
sekarang jadi satu-satunya anak Mami
dan Papi.
Aku senang.
Janji
Nenek
berikutnya, ketika bosan dengan keluarga ini, aku bisa mencari keluarga lain.
***
ADA REKOMENDASI BACAAN SERU, NIH!!!
DUSUN SALAMATA
No. ISBN: 978-623-446-637-9
Penulis: Partikel Atom
Penerbit: LovRinz Publishing
Cetakan Pertama: November 2023
Jenis Buku: Kumpulan Cerpen (Horor)
Bagi teman-teman yang minat, bisa pesan di toko online berikut:
• Shopee Penerbit.LovRinzOfficial
• Shopee Partikel Atom Bookstore
