Senin, 14 April 2025

Cerpen: Aku Tidak Suka Tatapan Iba

 “Ayo, Kak Salwa. Kita cari es krim,” ucap Niken.

Nggak ah, takut dicari Mami. Kita tunggu Mami bentar, ya.” Salwa yang terpaut tiga tahun dari Niken mengingatkan. Dia kemudian menggandeng tangan adik angkatnya itu ke trotoar yang dinaungi sebuah pohon.

Mami sedang dalam perjalanan menjemput mereka. Hari ini jadwal les Bahasa Inggris Salwa. Namun, Niken yang masih berumur kurang dari enam tahun, pada beberapa keadaan suka mengikuti kakaknya itu.

“Ayo, Kak. Adek pengin es krim. Please, ya.” Niken merayu dengan sedikit memelas.

Melihat adiknya yang sepertinya sangat ingin makan es krim, Salwa menengok sekitar. Siapa tahu di dekat sini ada minimarket. Sehingga ia bisa ke sana sebentar untuk membelikan adiknya ini es krim. Betul, di ujung jalan ada sebuah minimarket.

“Ayo kita ke sana bentar, Dek,” ucap Salwa sembari menunjuk minimarket.

“Terus kalau Mami datang gimana?”

“Hem ….” Salwa berpikir.

Belum sempat Salwa berpendapat, Niken lebih dulu memberikan solusi. “Gimana kalau Kak Salwa aja yang ke sana. Adek tunggu di sini. Buat jaga-jaga. Siapa tahu Mami datang.”

“Ide bagus. Tunggu bentar ya, Dek. Es krim rasa vanila, kan? Seperti biasa.

Niken mengangguk semangat. Salwa pun pergi.

***

Salwa POV

Aku melangkah meninggalkan Niken. Aku tidak lama, hanya pergi membeli es krim untuknya. Meskipun Niken hanya adik angkat yang diadposi Mami sama Papi setahun lalu, aku sangat menyayanginya. Aku rela berbagi semua mainan dengannya. Apa yang dia mau dan itu bisa kuberikan untuknya, aku akan beri sebisanya.

Niken adalah anak yang lucu. Dia juga masih begitu polos. Makanya, aku akan selalu bersamanya. Mengajari ini-itu agar kelak saat mulai bersekolah, dia tidak gampang diganggu oleh teman-temannya. Aku sangat sayang kepadanya. Dia adikku.

Aku pun melintasi jalan menuju minimarket di seberang. Setelah berhasil menyeberang, aku sempat menengok ke arah Niken. Dia melambai-lambai. Aku tersenyum. Lagi-lagi dia terlalu menggemaskan bagiku.

Aku pun masuk ke minimarket, mencari apa yang adikku inginkan tadi, es krim rasa vanila. Aku mengambil empat bungkus; dua rasa vanila dan dua rasa stroberi. Itu untukku. Aku tidak membeli sesuatu lain. Aku langsung menuju kasir untuk membayar keempat es krim itu. Setelah transaksi selesai, aku pun keluar.

Di seberang, Niken masih berdiri dengan tas merah muda di punggung. Dia belum begitu fasih membaca, tetapi semangatnya ingin ikut setiap kali kursus membuatku senang. Niken pengin jadi pinter kayak Kak Salwa, pengin jadi juara biar banyak piala, begitu ucap Niken saat ke sekolahku bersama Mami dan Papi pada hari kenaikan kelas.

Dari tempatnya berdiri, Niken kembali melambai. Dia ternyata terus memperhatikanku. Aku segera berjalan untuk melintas. Namun, sebelum itu aku berpapasan dengan seorang nenek. Badannya sudah bungkuk. Wajah dan kulit tangannya keriput. Dia memicingkan mata melawan cahaya mentari sore, terlihat begitu kesusahan dengan karung yang dia bawa. Aku merasa iba dan terpikirkan untuk membantu.

“Nenek mau ke mana?” tanyaku.

Si nenek melirik padaku. “Ke sebelah sana, Nak. Nggak jauh, kok.” Dia menunjuk gerobak yang terparkir di depan sebuah ruko kosong.

“Ayo, Nek. Saya bantu.” Aku pun berusaha mengangkat karung yang dibawa si nenek. Tidak berat. Aku menebak isinya mungkin botol-botol plastik atau sejenisnya sehingga aku mampu mengangkatnya dengan sebelah tangan. Tanganku satu lagi memegang kantong plastik berisi es krim.

Aku berusaha menyamai langkah si nenek yang pelan-pelan. Tidak ada obrolan. Kami pun tiba di gerobak.

“Akhirnya sampe juga ya, Nek,” ucapku ramah.

“Makasih ya, Nak. Kamu baik sekali. Pasti orang tuamu juga baik sehingga berhasil mendidik anak seperti kamu.”

Aku hanya tersenyum. Tersipu malu.

Si nenek kemudian mengangkat pandangannya ke arahku. Aku masih berdiri di dekatnya. “Tadi kamu ke sini dengan siapa?”

“Dengan adikku. Dia sedang menunggu di sana,” jawabku sembari menunjuk ke arah Niken berdiri yang memang terlihat dari tempat kami berdiri sekarang.

Si nenek ikut menengok mengikuti telunjukku. Dia kemudian berbalik. Kali ini matanya memelotot hingga keriput di wajahnya semakin terlihat. “Kalian terlalu baik. Kalian sudah salah mengadopsi anak itu.”

***

Niken POV

Aku melambai ke arah Kak Salwa, memasang muka ceria. Itu bukan bahagia pura-pura. Itu adalah bahagia yang sebenarnya. Aku sebenarnya sedang memberikan lambaian terakhirku kepada kakak yang cantik dan baik hati itu. Tidak, ralat. Kepada kakakku yang terlalu baik hati itu.

Aku adalah anak yang mereka pungut setahun lalu, anak berumur lima tahun yang mereka temukan kelaparan di pinggir jalan. Mereka bertanya tentang keluargaku. Aku tak tahu. Aku tidak pernah tahu. Bahkan, awalnya aku tidak tahu apa itu keluarga. Aku hanya tahu diri sendiri. Hidup untuk makan dengan mengemis atau jadi pengamen.

Mereka menatapku dengan perasaan iba. Ya, mereka: Mami, Papi, dan Kak Salwa yang sekarang aku sebut keluarga. Jujur aku tidak pernah suka dengan tatapan iba seperti itu. Selama ini aku hidup di bawah belas kasihan orang. Aku tahu, orang-orang memberiku uang recehan bukan karena suara dan lagu yang aku nyanyikan terdengar bagus, melainkan karena belas kasihan. Be-las ka-si-han. Dan, aku merasa diperlakukan begitu oleh keluarga Kak Salwa. Mereka mengajakku ke rumah. Mereka memberiku makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal.

Lagi-lagi, aku tidak suka tatapan belas kasihan itu. Aku tidak suka. Aku iri dengan hidup anak-anak lain. Termasuk kakakku, Salwa. Aku melihat tatapan mami-papiku kepadanya adalah tatapan kasih sayang yang tulus. Aku bisa melihat itu dari pandangan mereka yang berbinar. Pikiran untuk menjadi anak mereka satu-satunya itu pun muncul. Siapa tahu dengan itu, tatapan iba dan belas kasihan tadi hilang, berganti menjadi tatapan tulus dan penuh kasih sayang.

Di suatu sore, kira-kira sepekan lalu, saat sedang bermain di depan rumah, datang seorang nenek pemulung. Aku yang sudah tinggal kurang lebih setahun bersama keluarga ini juga dididik untuk berbuat baik ke sesama. Nenek tadi ingin minum. Aku masuk ke rumah. Di rumah tidak ada orang selain aku dan Kak Salwa. Dia sedang di kamarnya, katanya akan mengerjakan PR sebentar kemudian menemaniku bermain bersama di depan rumah.

Aku pergi ke dapur, membuka kulkas, mengambil sebotol air minum dan sebuah gelas. Tidak lama, aku keluar lagi. Si nenek pun minum. Setelah minum, dengan suara berbisik, dia mendekat. “Makasih ya, Nak. Kamu baik sekali. Pasti orang tuamu juga baik sehingga berhasil mendidik anak seperti kamu.”

Aku terlihat murung. “Mereka bukan orang tuaku,” ucapku.

“Mereka bisa jadi orang tuamu,” kata si nenek.

Aku menatapnya kebingungan.

“Nenek akan membantumu jika kamu mau.”

Hari ini, sesuai arahan si nenek, aku ingin melihat kebenaran ucapannya itu. Dari apa yang dia janjikan, aku yakin hidupku ke depannya akan lebih cerah. Tidak ada lagi tatapan iba, tidak ada belas kasihan. Aku akan hidup normal, tetapi dengan syarat, kubawakan kakakku untuknya.

***

Lima tahun kemudian

“Niken! Ayo, Niken! Nanti kamu bisa telat sekolah!” seru Mami. Hari ini hari ujian di sekolah. Penentuan naik ke kelas enam. Aku pun segera turun dari lantai 2. Sambil menenteng tas di punggung, aku mengait roti di meja dan menyusul Mami yang sudah menuju mobil. Kata Mami, dia akan terus mengantar jemput aku meskipun sebenarnya kami punya sopir pribadi. Itu juga sesuai arahan Papi. Mereka sangat khawatir akan keselamatanku. Mereka tidak mau kehilangan aku. Mereka tidak mau kehilangan anak mereka lagi. Seperti lima tahun lalu, saat Kak Salwa hilang, ketika kami pulang les Bahasa Inggris.

Hingga hari ini, dia tidak pernah lagi kembali. Berbagai usaha sudah dilakukan Mami dan Papi. Jejak terakhirnya terekam oleh CCTV minimarket sebelum melintas jalan. Dia tidak melintas, tetapi berjalan sendiri semakin menjauh dari minimarket. Setelah berada di titik buta yang tidak terekam oleh CCTV minimarket dan ruko-ruko di sebelahnya. Kak Salwa menghilang.

Aku merasa kehilangan waktu itu. Namun, lama-kelamaan aku merasa puas sebab sekarang semua berubah. Seperti yang dikatakan si nenek waktu itu. Aku sekarang jadi satu-satunya anak Mami dan Papi. Aku senang.

Janji Nenek berikutnya, ketika bosan dengan keluarga ini, aku bisa mencari keluarga lain.

***


ADA REKOMENDASI BACAAN SERU, NIH!!!

DUSUN SALAMATA

No. ISBN: 978-623-446-637-9

Penulis: Partikel Atom

Penerbit: LovRinz Publishing

Cetakan Pertama: November 2023

Jenis Buku: Kumpulan Cerpen (Horor)


Bagi teman-teman yang minat, bisa pesan di toko online berikut:

Shopee Penerbit.LovRinzOfficial

Shopee Partikel Atom Bookstore